amalan amalan hati

Rabu, 31 Agustus 2016

ESENSI IBADAH SULUK

Salah satu ibadah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat kita pada bulan suci Ramadhan adalah suluk, yang merupakan satu manifestasi dari tarekat Naqsyabandiah. Tarekat ini berhulu pada diri Nabi Muhammad saw yang kemudian mengalir kepada Abu Bakar as-Siddiq ra, sahabat Nabi saw dan khalifah pertama, sebagaimana diterangkan Nabi saw sendiri: ''Tidak ada sesuatu pun yang dicurahkan Allah ke dalam dadaku, melainkan aku mencurahkan kembali ke dalam dada Abu Bakar.'' Oleh sebab itu, kendatipun pada abad 1 Hijriah orang Islam belum mengenal istilah tasawuf, tetapi benih-benihnya sudah tampak, seperti pada diri Abu Bakar. Dan pada masa itu banyak sekali ditemui perilaku atau sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya, yang mencirikan pengajaran dan amalan ilmu tasawuf.

Tarekat yang diterima Abu Bakar yang nantinya populer dengan nama Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah telah mengalami pergantian penyebutan beberapa kali. Dalam silsilah keguruan tarekat ini, Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq berada pada urutan pertama. Periode antara Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq sampai Sayyidi Syaikh Abu Yazid al-Bistami berada pada urutan ke-5 dinamakan Shiddiqiah. Periode antara Syaikh Tayfur sampai Sayyidi Syaikh Abdul Khalik Fajduani, silsilah ke-9 dinamakan Tayfuriah. Periode antara Khawajah Abdul Khalik Fajduani sampai Sayyidi Syaikh Bahauddin Naqsyabandi, silsilah ke-15 dinamakan Khawajakaniah. Periode antara Syaikh Bahauddin Naqsyabandi sampai Sayyidi Syaikh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrar, silsilah ke-18 dinamakan Naqsyabandiyah ( Surau Baitul Amin, Tarekat Naqsyabnadiah Khalidiah, 2008 ).


Ibadah suluk yang dilakukan oleh orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah dengan mengintensifkan ibadah wajib dan ibadah sunnah, maka masing-masing dari mereka berpedoman kepada Alqur'an dan Sunnahnya. Dan jika seorang dari mereka dalam hal itu berbicara dengan perkataan yang tidak ia sandarkan kepada dirinya sendiri, maka perkataan itu atau maknanya disandarkan kepada Allah dan Rasul-Nya; kadang-kadang di antara mereka ada yang mengucapkan kata-kata hikmah, dan hal itu ternyata berasal dari Nabi saw sendiri; ini sama dengan kata-kata hikmah, yang dikatakan orang dalam menafsirkan firman Allah: ''Nurun 'ala nurin yang berarti cahaya di atas cahaya'' ( Majmu' al Fatawa, juz XIX: 273 ).

TAREKAT 'MUKTABARAH'

Tarekat Naqsyabandiah merupakan satu tarekat yang muktabarah dalam dunia tarekat. Ciri khas tarekat ini zikir bersifat sirri ( tersembunyi dalam hati ), hal ini berbeda dengan tarekat lainnya, seperti tarekat Syattariah, Haddadiayah, Qadiriah dan lainnya yang prosesi pelaksanaan bersifat jahar. Fondasi pertama tarekat adalah al-iradah, yaitu kehendak atau kemauan bulat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan menapaki jalan-jalan ( menujuNya ) secara sungguh-sungguh sedemikian rupa sehingga yang bersangkutan benar-benar mengalami dan merasakan (kehadiran) Tuhan ( Rukun Ihsan : Seolah-olah beribadah melihat Allah apabila tidak maka sadarilah bahwa Allah melihatnya ).

Perintah Tuhan mengenai hal ini sangat jelas ketika berfirman : ''Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah wasilah, serta bersungguh-sungguhlah menapaki jalan-jalan ( menuju kepada ) -Nya agar kamu memperoleh kemenangan / kesuksesan.'' ( QS. Al-Maidah:35 ).

Sebenarnya tidak hanya manusia yang diperintahkan Tuhan untuk menapaki jalan-Nya, lebah pun bahkan menjadi objek yang di-khitab Tuhan dengan perintah yang sama melalui wahyu yang disampaikan kepadanya: ''Maka tempuhlah jalan-jalan Tuhan-Mu yang telah dimudahkan untukmu.'' ( QS. Al-Nahl: 69 ). Perjalanan menuju Tuhan tidak mungkin dapat dilakukan, dan jalan-jalan menuju Tuhan pun tidak akan pernah tersingkap, kecuali dengan mujahadah (perjuangan yang sungguh-sungguh) yang dimotori oleh iradah tersebut. Hal ini ditegaskan Tuhan dalam sebuah firman-Nya: ''Dan orang-orang yang bermujahadah di dalam Kami, kepada mereka Kami benar-benar menunjukkan jalan-jalan menuju Kami; sesungguhnya Allah benar-benar bersama dengan orang yang mengalami ihsan ( beribadah seolah-olah melihat Allah ).'' ( QS. Al-Ankabut: 69 ).

Dalam wacana sufi perjalanan dalam menempuh jalan-jalan menuju Tuhan disebut dengan suluk dan orang yang melakukan perjalanan disebut salik. Di dalam suluk para salik menyibukan diri dengan riyadhah ( latihan kejiwaan ) dalam rangka pendekatan diri kepada Allah (altaqarrub ilallah) melalui pengamalan ibadah-ibadah faraidh ( wajib ) dan nawafil ( sunnah ). Semua aktivitas ini dilakukan di atas fondasi zikrullah, di samping zikrullah itu sendiri di jadikan sebagai amalan yang berdiri sendiri, lepas dari ibadah-ibadah lainnya.

Ini merupakan wujud konkret pengamalan firman Allah dalam sebuah hadis qudsi: ''Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia berzikir kepada-Ku; jika ia berzikir kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku berdzikir kepadanya dalam diri-Ku; jika ia berzikir kepada-Ku dalam suatu kelompok, maka Aku berzikir kepadanya dalam kelompok yang lebih baik dari pada mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta; jika ia mendekat kepada-Ku sehasta; maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari,''
( Shahih al-Bukhari, juz VI: 2694; Shahih Muslim, juz IV : 2061 ).

JALAN MENUJU SURGA

Intinya semua sunnah Nabi sebagai model Alquran yang hidup, nyata, dan sempurna, yang dalam bahasa Aisyah diungkapkan dengan redaksi akhlak Nabi adalah Alquran ( Musnad Ahmad, juz VI: 91; Al-Mu'jam al-Awsath, juz I: 30 ), diwujudkan secara konkret dan sungguh-sungguh dalam suluk. Berkekalan dalam wudhu, berzikir dalam setiap keadaan ( berdiri, duduk dan berbaring ), berjamaah dalam semua shalat wajib, menjaga moderasi antara lapar dan kenyang, menghiasi waktu malam dengan berbagai ibadah dan shalat sunah, mengosongkan kalbu dari selain Allah, mengarahkan segenap konsentrasi dan perhatian sebagian contoh sunnah Nabi yang dipraktikkan dalam suluk.

Suluk sekaligus, merupakan jalan menuntut ilmu dan ma’rifat yang dengannya Allah melempangkan jalan menuju surga yang notabene jalan menuju Allah sendiri karena surga tidak ada kecuali di sisi Allah. Sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan imam-imam hadis lainnya, mendukung kenyataan ini: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (Shahih al-Bukhari, juz I: 37; Shahih Muslim, juz IV: 2074; Musnad Ahmad, juz II: 325).

Semoga dengan ibadah suluk kita mewujudkan diri sebagai sosok ‘abdun (hamba) sebagai manifestasi sebagai makhluk-Nya dan khalifah di muka bumi, dapat mengaplikasikan nilai-nilai suluk itu sendiri bukan hanya dalam ritual suluk juga dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dalam masyarakat untuk ber-akhlakul karimah, baik dalam secara vertikal maupun horizontal sebagai manifestasi bentuk esensi dari ibadah suluk itu sendiri. Wallahu a'lam.  

Itulah salah satu ibadah yang dilakukan masyarakat kita pada bulan suci Ramadhan.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : ESENSI IBADAH SULUK

0 komentar:

Posting Komentar