amalan amalan hati

Rabu, 12 Oktober 2016

KEUTAMAAN 10 MALAM TERAKHIR RAMADHAN

Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertakwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, 10 hari terakhir Ramadhan.


Sebagian ulama membagi bulan ini dengan tiga fase yaitu fase pertama sepuluh hari pertama Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh hari kedua sebagai fase maghfirah, dan sepuluh hari ketiga sebagai fase pembebasan dari api neraka. Seperti diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi : ''Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi Muhammad SAW. Ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: ''Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.''

Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama. Sebab pertama, karena sepuluh terakhir ini merupakan  penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannya atau akhirnya. Rasulullah SAW berdoa, ''Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah  pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.''

Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia mengakhiri hidup atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.

Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.

Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan diduga turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah SWT,  ''Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Quran pada malam kemuliaan.'' Allah SWT juga berfirman, ''Bulan Ramadhan, adalah bulan diturunkan di dalamnya Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil.''


Dalam hadits disebutkan, ''Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum.''

Alquran dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana Sabda Nabi SAW, ''Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.''

Karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik dibilangan ganjil atau genap. Karena tidak ada konsensus atau ijma' tentang kapan turunnya lailatul qadar.

Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka'ab dan Ibnu Umar ra. Tapi, sekali lagi tidak ada konsensus pasti. Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab ''Fathul Bari'' menyebutkan, ''Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.''

Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan. Sebab, kita ingin mengambil bekal sebanyak mungkin di bulan ini untuk mengarungi sebelas bulan lain. Semoga Allah SWT menerima amal kebaikan kita. Amin.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : KEUTAMAAN 10 MALAM TERAKHIR RAMADHAN

0 komentar:

Posting Komentar